
Jakarta, jllangley Indonesia
—
Keputusan
Bank Indonesia
(BI) menaikkan suku bunga acuan atau
BI Rate
sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen pada Selasa (9/6) di luar ekspektasi sebagian pelaku pasar.
Langkah tersebut diambil ketika nilai tukar rupiah terus tertekan hingga menembus level Rp18 ribu per dolar AS di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik Timur Tengah.
Lantas, apakah langkah ini menandakan tekanan terhadap rupiah sudah sedemikian serius hingga membutuhkan respons cepat dari bank sentral?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai keputusan BI tidak dapat dibaca sebagai tanda kepanikan otoritas moneter, melainkan bentuk eskalasi respons yang terukur untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
“Keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga ke 5,5 persen sebaiknya tidak dibaca sebagai tanda kepanikan, melainkan sebagai eskalasi respons yang terukur,” kata Yusuf kepada
jllangleyIndonesia.com
, Selasa (9/6).
Sebelumnya, BI telah menaikkan suku bunga acuan sebanyak 50 basis poin dan melakukan intervensi di pasar valas. Untuk itu, Yusuf menilai kenaikan kali ini merupakan kelanjutan dari rangkaian kebijakan yang sama.
[Gambas:Youtube]
Ia menilai unsur kejutan dalam keputusan tersebut menjadi sinyal bahwa BI serius menjaga stabilitas rupiah dan tidak akan membiarkan pelemahan berlangsung tanpa respons.
Meski demikian, Yusuf mengakui tekanan eksternal terhadap rupiah saat ini lebih persisten dibandingkan perkiraan sebelumnya. Konflik di Timur Tengah memicu arus modal keluar dari negara berkembang dan mendorong rupiah menembus level Rp18 ribu per dolar AS.
“Jadi situasinya memang serius dan perlu diwaspadai, tetapi lebih tepat dipahami sebagai upaya manajemen risiko yang proaktif daripada respons terhadap kondisi darurat,” ujarnya.
Yusuf menjelaskan kenaikan suku bunga tetap memiliki dampak positif dalam menjaga daya tarik aset domestik sehingga selisih imbal hasil dengan negara maju tetap kompetitif dan dapat menahan keluarnya modal asing.
Selain itu, stabilitas rupiah juga diperlukan untuk menekan risiko
imported inflation
atau inflasi impor. Pelemahan nilai tukar berpotensi meningkatkan biaya impor bahan baku industri, energi, hingga pangan yang pada akhirnya dapat mendorong kenaikan harga di dalam negeri.
Namun, ia mengingatkan kemampuan suku bunga dalam menopang rupiah tetap terbatas. Sebab, tekanan terhadap mata uang Garuda saat ini lebih banyak dipicu faktor global, terutama perpindahan dana investor ke aset aman di tengah meningkatnya risiko geopolitik.
“Dalam situasi seperti itu, suku bunga lebih berfungsi untuk meredam tekanan dan mengurangi volatilitas daripada membalikkan arah pergerakan rupiah secara penuh,” katanya.
Yusuf menilai stabilitas rupiah tidak bisa hanya ditopang kebijakan moneter. Persepsi pasar terhadap kondisi fiskal dan arah kebijakan pemerintah juga menjadi faktor penting yang menentukan pergerakan rupiah.
Menurut dia, jika investor meragukan keberlanjutan fiskal atau konsistensi kebijakan pemerintah, premi risiko terhadap aset Indonesia akan meningkat sehingga kenaikan suku bunga tidak selalu cukup untuk mengimbangi kekhawatiran pasar.
“Karena itu, kenaikan suku bunga saja tidak cukup. Stabilitas rupiah pada akhirnya menjadi tanggung jawab bersama,” ujarnya.
Ia menambahkan kebijakan moneter yang ketat harus didukung kebijakan fiskal yang kredibel, komunikasi pemerintah yang jelas, serta langkah struktural untuk memperdalam pasar keuangan dan menarik investasi jangka panjang.
Senada, Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai keputusan Bank Sentral menaikkan BI Rate menjadi 5,5 persen merupakan langkah yang tepat mengingat tekanan terhadap rupiah telah lebih dalam dari perkiraan.
“Menurut saya, keputusan Bank Indonesia menaikkan BI Rate hari ini merupakan langkah yang tepat karena rupiah sudah melemah lebih dalam dari perkiraan, tekanan global masih tinggi, dan pasar membutuhkan sinyal bahwa BI tidak membiarkan pelemahan rupiah bergerak tanpa respon kebijakan,” kata Josua.
Ia menjelaskan kenaikan suku bunga akan memperkuat daya tarik aset rupiah, membantu menahan arus keluar modal asing, sekaligus mengurangi tekanan terhadap cadangan devisa yang selama ini digunakan untuk menjaga stabilitas kurs.
Meski begitu, Josua menegaskan pelemahan rupiah saat ini tidak hanya dipicu perbedaan imbal hasil dengan aset dolar AS. Menurutnya, tekanan global seperti konflik Timur Tengah, tingginya harga minyak, suku bunga Amerika Serikat yang masih tinggi, hingga kecenderungan investor mencari aset aman juga berperan besar.
Di sisi domestik, pasar masih mencermati kredibilitas fiskal pemerintah, arah kebijakan ekonomi, arus keluar dana dari pasar saham, serta kepastian regulasi.
[Gambas:Photo jllangley]
“Karena itu, kenaikan BI Rate lebih tepat dilihat sebagai langkah untuk meredam tekanan jangka pendek, bukan solusi tunggal untuk memulihkan rupiah,” ujarnya.
Josua memperkirakan efektivitas kebijakan BI akan sangat bergantung pada kemampuan menarik kembali dana asing ke instrumen domestik, koordinasi pemerintah dan BI menjaga likuiditas perbankan, serta keberhasilan pemerintah memperkuat kepercayaan pasar melalui disiplin fiskal dan kepastian kebijakan.
Ia mengingatkan kenaikan suku bunga juga berpotensi meningkatkan biaya dana perbankan dan menahan penurunan bunga kredit, sehingga dapat menambah tekanan bagi dunia usaha yang tengah menghadapi pelemahan rupiah dan kenaikan biaya energi.
Karena itu, menurutnya, stabilisasi rupiah harus diimbangi dengan upaya menjaga likuiditas agar pembiayaan sektor riil tidak terganggu.
“Rupiah tidak hanya membutuhkan suku bunga yang menarik, tetapi juga kepercayaan bahwa arah kebijakan ekonomi Indonesia tetap konsisten, hati-hati, dan ramah terhadap investasi,” tutup Josua.
[Gambas:Youtube]
Add
as a preferred
source on Google
BI Rate Naik ke 5,5 Persen, Apa Cukup untuk Jinakkan Rupiah?
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN:
1
2
Baca lagi: Hewan ‘Ikan Berjalan’ Jadi Maskot Piala Dunia 2026, Nyaris Punah
Baca lagi: Ada Nama Raffi Ahmad di Kasus Bea Cukai, Hotman Paris Turun Tangan
Baca lagi: Demokrat soal Dugaan Korupsi BGN: AHY Tak Kenal Sony Sonjaya



