
Jakarta, jllangley Indonesia
—
Nilai tukar
rupiah
ditutup di level Rp17.762 per
dolar AS
pada perdagangan Rabu (17/6) sore. Mata uang Garuda melemah 37 poin atau 0,21 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Pelemahan juga terjadi pada mata uang Asia lainnya terhadap dolar AS.
Yuan China melemah 0,01 persen, dolar Hong Kong melemah 0,01 persen, dolar Singapura melemah 0,04 persen, baht Thailand melemah 0,14 persen, won Korea Selatan melemah 0,45 persen, dan dolar Taiwan melemah 0,02 persen terhadap dolar AS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sisi lain, ada juga sejumlah mata uang Asia yang menguat seperti Yen Jepang naik 0,12 persen, peso Filipina naik 0,13 persen, dan ringgit Malaysia naik 0,10 persen.
Di kelompok mata uang negara maju, euro Eropa melemah 0,05 persen, poundsterling Inggris melemah 0,11 persen, dolar Australia melemah 0,14 persen, dolar Kanada melemah 0,04 persen, dan franc Swiss menguat 0,16 persen.
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan perdagangan sore ini ditutup dengan pelemahan rupiah terhadap dolar AS karena aksi
profit taking
setelah penguatan besar belakangan ini.
Saat ini, investor sedang menanti keputusan Federal Open Market Committee (FOMC) Bank Sentral AS (
The Federal Reserve
/ The Fed) serta Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) pada Kamis besok.
“Investor cenderung
wait and see
mengantisipasi FOMC malam ini dan RDGBI besok,” ujar Lukman kepada
jllangleyIndonesia.com.
Senada, Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuabi mengatakan pelemahan rupiah ini menyusul perhatian pasar yang tertuju pada RDG BI.
Pengamat ekonomi, mata uang & komoditas itu menilai RDG kali ini menjadi penting karena pada pekan lalu BI secara mengejutkan menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen melalui RDG mingguan.
Langkah serupa juga terjadi pada RDG bulanan sebelumnya, ketika BI menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin.
“Kebijakan tersebut menjadi perhatian pasar, terutama karena rupiah sebelumnya sempat mengalami tekanan cukup besar terhadap dolar AS,” ujar Ibrahim dalam keterangan tertulis.
[Gambas:Video jllangley]
(dhz/sfr)
Add
as a preferred
source on Google
Baca lagi: Jadi Alternatif Kopi, Apakah Matcha Mengandung Kafein?
Baca lagi: Fakta-fakta Larangan Medsos di Inggris buat Anak di Bawah 16 Tahun
Baca lagi: Demam Piala Dunia, Meta Bawa Fitur Baru Ini Buat Pengguna



