Rupiah Terancam Jebol Rp18 Ribu, Pengamat Wanti-wanti Jadi Level Baru

Jakarta, jllangley Indonesia

Pengamat pasar keuangan memandang peluang penguatan ilai tukar

rupiah

terhadap

dolar AS

cenderung terbatas imbas dinamika sentimen eksternal.

Mengacu data perdagangan Kamis (2/7), rupiah terpantau melemah 43 poin atau 0,24 persen ke level Rp17.995 per dolar AS dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.

KondisiĀ itu terjadi di tengah meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed) dan menjelang rilis data ketenagakerjaan nonfarm payrolls (NFP) AS.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Analis DOO Financial Futures Lukman Leong mengatakan sentimen eksternal tersebut membuat peluang penguatan rupiah masih terbatas. Bahkan, menurutnya, rupiah berpotensi menyentuh level psikologis Rp18 ribu per dolar AS.

“Saya kira Rp18 ribu mungkin saja. Hari-hari ini pasar sangat padat dengan data ekonomi. Investor masih mengantisipasi data NFP AS malam ini sehingga masih enggan masuk ke aset-aset berisiko,” ujar Lukman di Kantor DOO Financial Futures, Jakarta, Kamis (2/7).

Menurut Lukman, konsensus pasar memang memperkirakan penambahan tenaga kerja AS sekitar 110 ribu pada Juni. Namun, justru ekspektasi yang relatif rendah membuat pasar khawatir data aktual bisa lebih kuat dari perkiraan sehingga memperbesar peluang The Fed mempertahankan sikap

hawkish

.

[Gambas:Youtube]

Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS juga kembali menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Meski demikian, Lukman menilai Bank Indonesia (BI) harus mencegah rupiah bertahan terlalu lama di atas level Rp18 ribu per dolar AS.

“Itu level yang sangat penting. Rupiah boleh melewati Rp18 ribu, tetapi jangan sampai bertahan terlalu lama di sana. Kalau terlalu lama, nanti bisa menjadi level baru,” katanya.

Untuk itu, ia menilai BI masih memiliki ruang untuk kembali menaikkan suku bunga acuan demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

“Menurut saya masih ada ruang minimal 50 basis poin sampai 6,25 persen. Pelemahan rupiah beberapa waktu terakhir juga sejalan dengan kebijakan BI yang memangkas suku bunga,” ujarnya.

Lukman mengakui kenaikan suku bunga memang berpotensi menahan laju pertumbuhan ekonomi. Namun, menurutnya, stabilitas nilai tukar tetap perlu menjadi prioritas.

“Kalau rupiah terus tertekan, mana yang lebih penting? Menurut saya, mengorbankan sedikit ekonomi tidak masalah selama rupiah bisa stabil,” katanya.

(lau/ins)

Add

as a preferred

source on Google

Baca lagi: Pertemuan Ruben Onsu dan Sarwendah pada 11 Juli Batal

Baca lagi: Kejagung: Lodewyk Dibantu Kolonel TNI Mark Up Pengadaan Motor Listrik

Baca lagi: T.O.P Gelar Fan Meeting di Istora Senayan Jakarta 19 September

10 Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: