
Jakarta, jllangley Indonesia
—
Bank Indonesia
(BI) kembali menaikkan suku bunga acuan atau
BI Rate
sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75 persen.
Kenaikan tersebut menjadi yang ketiga dalam beberapa bulan terakhir dan memunculkan ekspektasi tren suku bunga masih akan terus naik dalam waktu dekat.
Kondisi tersebut turut memengaruhi berbagai instrumen investasi, termasuk obligasi dan reksa dana.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lantas, bagaimana strategi yang bisa dilakukan investor agar dapat memperoleh hasil optimal sekaligus mengelola risiko?
Perencana Keuangan Zelts Consulting Ahmad Gozali mengatakan kenaikan suku bunga umumnya akan menekan harga obligasi.
Dampaknya juga akan dirasakan reksadana pendapatan tetap karena portofolionya berisi obligasi.
“Dengan suku bunga yang sedang naik maka harga obligasi akan tertekan dan reksa dana jenis pendapatan tetap juga pasti akan mengalami penurunan NAB karena portofolionya berisi obligasi,” ujar Ahmad kepada
jllangleyIndonesia.com
, Jumat (26/6).
Menurut dia, investor yang ingin masuk ke reksa dana pendapatan tetap sebaiknya memilih produk yang memiliki portofolio obligasi bertenor pendek agar dampak kenaikan suku bunga tidak terlalu besar.
“Kalau mau masuk ke reksadana pendapatan tetap, mungkin baiknya mencari reksadana yang portofolionya pada obligasi yang tenornya pendek sehingga tidak terlalu tertekan dengan kenaikan suku bunga,” ujar Ahmad.
Sementara bagi investor yang ingin membeli obligasi secara langsung, ia menyarankan memilih obligasi yang baru diterbitkan.
“Kalau mau beli obligasi secara langsung, boleh pilih obligasi yang baru dikeluarkan karena sudah memiliki suku bunga yang lebih tinggi,” ucap Ahmad.
Ia menilai strategi tersebut lebih cocok diterapkan oleh investor dengan profil risiko rendah hingga menengah yang mengutamakan keamanan investasi dan tidak menyukai fluktuasi harga yang tinggi.
Ahmad juga mengingatkan obligasi tetap memiliki risiko, mulai dari pengurangan harga hingga risiko gagal bayar.
Untuk meminimalkan risiko, investor dapat memilih obligasi pemerintah.
Selain itu, investor perlu memahami perbedaan peran manajer investasi sebagai penerbit reksadana dan agen penjual seperti bank, perusahaan sekuritas, atau perusahaan teknologi finansial agar tidak keliru dalam berinvestasi.
“Untuk investasi, selalu sesuaikan dengan tujuan keuangan dan horison penggunaan dananya. Gunakan obligasi dan reksadana pendapatan tetap untuk horison investasi menengah, sekitar tiga sampai lima tahun,” ujar Ahmad.
Perencana Keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andy Nugroho mengatakan pemilihan produk investasi di saat seperti sekarang tetap harus disesuaikan dengan profil risiko masing-masing investor.
Menurut dia, investor agresif dapat mempertimbangkan reksadana saham karena berpotensi memberikan imbal hasil paling tinggi dengan risiko yang juga tinggi.
“Bila melihat data, reksadana saham justru memberikan return yang paling tinggi. Bila sesuai dengan profil risiko kita, bisa dipilih,” ujar Andy ketika dihubungi terpisah.
Sementara itu, investor moderat lebih cocok memilih reksadana campuran atau pendapatan tetap. Adapun investor konservatif dapat memilih reksadana pasar uang.
“Bila masih takut dengan situasi sekarang, bisa pilih yang berbasis pendapatan tetap atau pasar uang. Berinvestasi sedikit demi sedikit secara berkala,” ucap Andy.
Andy juga menyarankan investor membeli obligasi pemerintah karena memiliki risiko gagal bayar yang lebih rendah.
Ia pun mengingatkan masyarakat untuk tidak menggunakan “uang panas”, yakni dana yang dibutuhkan untuk kebutuhan sehari-hari atau hasil utang, sebagai modal investasi.
Selain itu, investor juga diimbau tidak bersikap FOMO (fear of missing out) dan tidak menempatkan seluruh dana pada satu instrumen investasi saja.
“Jangan masukkan seluruh modal ke satu instrumen saja untuk manajemen risiko. Bisa dibagi, misalnya 50-50 antara reksadana dan obligasi,” ujar Andy.
[Gambas:Video jllangley]
(sfr)
Add
as a preferred
source on Google
Baca lagi: Lighthouse Parenting, Pola Asuh yang Lebih Seimbang dan Bagus
Baca lagi: Alasan Komnas Perempuan Sebut Penyiksaan YTR Belum Masuk Standar PBB
Baca lagi: Menghitung Rugi Ekonomi RI dari Bisnis Haram Narkoba




12 Responses
Wah, gila sih penjelasannya clear banget! Btw, kemaren gw juga nemu referensi tambahan di https://www.nsfocus.net/vulndb/12750 bahasannya mirip-mirip dan oke juga buat dibaca.
Artikel yang sangat membantu untuk memahami topik ini lebih dalam. https://revistas.intec.edu.do/index.php/ciso/article/download/722/1931?inline=1
Penulisan artikelnya sangat runut sehingga mudah dipahami. Saya juga ingin berbagi tautan https://www.intensedebate.com/people/bong88living1 di sana ada tulisan serupa yang bisa dijadikan rujukan tambahan.
Penjelasannya tidak terlalu panjang tetapi tetap mencakup poin-poin penting. Referensi lain yang menarik tersedia di https://www.dokkan-battle.fr/forums/users/king88comguru/.
Penulis sangat jeli menangkap nuansa dan detail kecil yang sering dilewatkan oleh ulasan lain https://www.siteprice.org/competitors/expertadvisorblog.wordpress.comsehingga artikel ini saya nobatkan yang terbaik
Apresiasi saya untuk penulis karena telah menyajikan informasi yang sangat berharga. Saya turut melampirkan http://akhmadiinkhotkhon-1.ub.gov.mn/?p=965 yang kebetulan memiliki muatan informasi sejenis untuk memperkaya literatur kita.
Wah, tulisannya ngebantu banget buat nambah insight baru. Barusan saya juga nemu http://akhmadiinkhotkhon-1.ub.gov.mn/?p=1083 yang ngulas materi kayak gini dengan detail yang nggak kalah oke.
Artikel yang sangat informatif dan disusun dengan rapi. Sebagai tambahan wawasan, teman-teman juga bisa mengecek situs http://akhmadiinkhotkhon-1.ub.gov.mn/?p=1906 karena materi di sana cukup relevan.
Saya sangat menikmati tulisan ini karena langsung pada intinya. Tadi saya juga sempat membaca referensi lain di https://pastebin.com/u/layermoney58 yang membahas hal serupa secara komprehensif.
Materi yang disampaikan sangat relevan dengan kebutuhan informasi saya saat ini. Selain artikel ini, saya juga menemukan rujukan pendukung di https://akhmadiinkhotkhon-1.ub.gov.mn/?p=628 yang membahas isu terkait secara ekstensif.
Mantul min artikelnya, ngebuka wawasan banget. Oiya, buat yang mau explore lebih jauh soal ini, coba meluncur ke https://lb02.smashwords.com/profile/view/SteveKuhn deh, lengkap parah!
Asli, awalnya bingung tapi abis baca ini jadi langsung connect. Eh sekadar sharing, di https://protocol.ooo/en/users/epicureannycom/following juga ada ulasan yang se-tipe dan seru buat nambah referensi.